Lama
tinggal di daerah Banten, ternyata tidak membuat saya langsung hafal mengenai
sejarah Banten dan mengetahui tempat-tempat wisata di Banten, terutama yang
berkaitan dengan wisata religi daerah Banten Lama. Saya hanya tahu
tempat-tempat mainstream seperti Masjid Agung Banten, Istana Surosowan, Keraton
Kaibon, Tasik Kardi dan Benteng Speelwijk.
Baca
juga: Istana Kaibon, Misteri Kerajaan Banten
Tapi
ternyata saya salah. Masih banyak tempat lain yang belum saya ketahui, salah
satunya adalah mengenai keberadaan Masjid Kenari, di Desa Kenari, Kecamatan
Kasemen, Banten Lama.
Awalnya,
tanpa sengaja saya membaca gerbang masuk yang bertuliskan mengenai situs
pemakaman Sultan Abul Mufachir Mahmud Abdul Kadir (Sultan Banten ke-4), Sultan
Abul Ma’ali Ahmad dan Masjid Kenari. Saat itu kami bermaksud pulang ke arah
Cilegon melalui Banten Lama, keliling melewati Tasik Kardi dan Kramatwatu,
karena jalanan sedang dalam perbaikan. Karena, kami belum sholat Ashar, serta
takutnya ngga kebagian waktu Ashar, akhirnya kami berhenti di sebuah masjid di
pinggir Jalan Raya Banten Lama. Nah, di situlah saya melihat gapura yang
terletak di samping masjid, bertuliskan informasi di atas.
“Ku
(kependekan dari Yangku, panggilan sayang si Bebeb), kamu kok ngga pernah
cerita sih, ada situs Masjid Kenari di sini?” Tanya saya, yang keheranan,
kenapa orang Banten yang satu ini, yang notabene tinggal di daerah Kasemen,
ngga pernah ngasih tahu mengenai sejarah Banten, pada istrinya yang penggemar
sejarah ini.
“Hmmm,
tahu sih. Dulu, Kenari adalah tempat tinggal para bangsawan kesultanan,”
jawabnya dengan cuek. “Lho, kok ngga pernah cerita?” Protes saya. “Lah, emang
pernah nanya?” Gubraaaak! Yah, begitulah si Bebeb, suka angot-angotan.
Saya
pun penasaran, dan kebetulan di depan masjid ada Bapak tukang ojek yang sedang
mangkal. “Pak, itu Masjid Kenari, masuknya jauh ngga dari gapura ini?”
Si
Bapak melirik, “lumayan neng, ada sekitar 2 kilometer,” jawabnya. “Mau tah
dianterin?” Hihihi, saya hanya nyengir, senyum terpaksa. "Lain kali saja Pak, sudah sore."
Hmmm,
kirain deket, bisa jalan kaki, eh tahunya lumayan juga yak. Waktu juga sudah
bergeser tambah sore, bisa kemagriban di jalan kalau maksa pengen ke Masjid
Kenari. Akhirnya saya memutuskan bahwa tempat ini masuk dalam must list saya. Next time, jika ke Banten Lama lagi, harus mengunjungi tempat ini.
Dan,
waktu pun tiba! Si Bebeb pengen bikin mpek-mpek. Langsung timbul ide culas di
kepala saya. “Beli ikannya di Karangantu, yak. Biar lebih murah.” Hihihi,
melancarkan modus. Karangantu adalah pelabuhan Banten Lama, dan di situ ada
pelabuhan pelelangan ikan. Tanpa curiga, dia pun langung menyetujuinya. Saya
pun menyeringai culas.
Jalur Hijau Tasik Kardi yang Mempesona
Sehabis
sholat Subuh, hari Minggu lalu, kami pun berangkat menuju Karangantu. Seperti
biasanya, kami melewati jalur favorit, yaitu melalui Tasik Kardi. Kenapa
favorit? Jalur ini merupakan daerah pesawahan yang selalu menghijau sepanjang
tahun. Yep, sawah di sini merupakan sawah irigasi, jadi tidak tergantung musim.
Alam yang mempesona di sepanjang jalur Tasik Kardi |
Dinginnya
udara pagi, indahnya pemandangan padi hijau yang menghampar bagaikan permadani,
mengiringi perjalanan kami. Dan seperti hari libur biasanya, banyak orang yang
berjalan kaki menyusuri jalanan ini, menikmati indahnya pagi serta udara segar.
Anak-anak berlarian. Saya pun membuka memijit tombol power window, menurunkan
kaca gelap yang membatasi pandangan. Aisya pun melakukan hal yang sama pada
kaca depan. Saya mengeluarkan gear, mencoba shoot ke arah anak-anak yang sedang
berjalan kaki. Mereka pun berteriak kegirangan. “Woy, di foto woy!!” Mereka
bergaya riang, kemudian berlari mengejar si Jenderal Hitam yang berjalan
perlahan. Saya tertawa, melihat keriangan mereka. “Haai cantiik!!” Anak-anak
kecil itu meneriaki Aisya yang melongokkan kepalanya di jendela depan. “Idiiih,
ganjen amat sih, Bu. Iuuh, badai,” kata Aisya, sambil mencibirkan bibirnya
sedikit. Hahaha, saya pun tertawa kembali. “Haaai,” balas saya sambil
melambai-lambaikan tangan. Waks!!
Gaya bener, kayak seleb aja. Gedubraaak!
Anak-anak berjalan dan berlarian sepanjang jalur Tasik Kardi |
Mendekati
pertigaan yang menuju ke arah Keraton Surosowan, si Bebeb memacu Jenderal Hitam
lurus ke arah Benteng Speelwijk. Menyusuri jalanan sepanjang benteng menuju ke
Karangantu. Tujuan pertama kami adalah Pelabuhan Pelelangan Ikan Karangantu.
Cerita mengenai Karangantu ini, di posting terpisah yak, karena lumayan panjang
juga dan menarik, ada yang baru di sana.
Setelah
membeli ikan untuk bahan mpek-mpek, kami pun menyusuri Jalan Banten Lama.
Tadinya si Bebeb maunya belok lagi ke arah Benteng. Tapi saya memaksa untuk
mengambil jalan lurus. Saya akhirnya berterus terang, pengen mampir ke Situs
Makam Sultan Banten ke-4 dan ke-5, serta Masjid Kenari. Biasanya si Bebeb ngga
mau kalau ke tempat wisata berbau-bau situs pemakaman. Takutnya syirik, selalu
bilang begitu. Padahal kan saya cuma pengen tahu, napak tilas sejarahnya, bukan
untuk berdoa di kuburan.
Sempat
curiga juga dengan si Mas Suami, karena Jenderal Hitam terus berjalan melewati
Keraton Kaibon. “Ku, sengaja yak? Kok jauh amat, perasaan kemarin ngga jauh deh
dari jalanan menuju Keraton Surosowan?” Dan, dia pun keki, “berisik amat ya.
Tuh, nanti dekat jembatan,” tunjuknya. “Oh, iya,” saya pun mesem malu.
Berbelok
ke arah Kenari, kami dihadapkan pada jalur irigasi di sepanjang jalan. Terlihat
setiap rumah mempunyai akses ke arah jalur irigasi. Ada anak tangga di setiap
beberapa titik, dimana terdapat kerumunan ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian
serta memandikan anaknya. “Idiiih, malu amat, Bu. Itu ada yang mandi,” seru
Aisya. “Pakai baju ngga mandinya?” Tanya ayahnya iseng. “Ya, ngga pake lah,
makanya malu,” jawab Aisya judes. Kakaknya sedari tadi sudah terlelap kembali
tidur sepanjang jalan.
“Oh,
jalur irigasinya di sini ada juga yak, bukan hanya di Sawah Luhur,” saya
berguman sendiri. “Di sini juga ada Perusahan Pengolahan Air,” kata si Bebeb.
“Dulu, ada cerita yak, gajinya gede banget yang kerja di situ. Ada temen,
keluar dan melamar.” Terangnya lagi. “Gede seberapa emang?” Dalam hati sih ngga
percaya juga perusahaan air minum gajinya emang segede apa sih. “Dulu aja pas aku
baru masuk, sekitar Rp 300.000 (tahun 90-an), di situ katanya 3x lipat, lebih
dari Rp 1.000.000/bulannya.” Waw, gede juga yak. Dan mata pun beralih pada
bangunan di sebelah kanan yang akan kami lewati. “Ini nih, perusahaannya.” Si
Bebeb menunjuk ke arah kanan, kantor Pengolahan Air. Saya manggut-manggut. Gede
juga dong yak, kalau bedanya 3x lipat. Langsung berhitung dengan jari,
komat-kamit.
Pagi-pagi para petani sudah mulai turun ke sawah. |
Pemandangan
berganti dengan pesawahan yang menghijau, mirip dengan di area Tasik Kardi.
“Loh, kok ini masuk area Kramatwatu ya,” tanya saya sambil melihat peta di
Google Map. “Ngga salah?” Saya pun bingung dengan orientasi arah. “Bisa tembus
ke Kramatwatu loh,” seru saya dengan kebingunan, kira-kira tembusnya di daerah
mana yak?
Jalanan
semakin mengecil, dan mulai bertanah. “Wah, buntu itu ke depannya,” seru si
Bebeb. Di depan terlihat jalanan yang kecil tertutup ilalang. “Wah, si Mbok ni
cari masalah aja, pengen lihat Masjid Kenari segala,” mulai mantera-manteranya
keluar. Mau balik arah pun sulit, karena tidak ada lahan untuk parkir yang
memadai. Terpaksa kami berjalan mundur. “Di mana masjidnya? Katanya cuma 2
kilometer, dari tadi kita ngga nemuin pertigaan atau mesjid deh,” elak saya.
“Udahlah
balik lagi aja. Ngga berani lewat depan sana,” kata si Bebeb, saat sebuah motor
yang dinaiki oleh dua orang bapak berumur, lewat di samping Jenderal Hitam yang
sedang mencoba atret mundur. Saya menurunkan kaca, “Pak, kalau ke sana ke
arah mana?” Tanya saya. Si Bapak menjawab dengan ramah, “ke Kramat, Nong.”
“Mobil bangkit lewat boten?” Si Bebeb
nanya pakai bahasa “Urdu”, yang
maksudnya: mobil bisa lewat atau enggak? Menurut saya itu bahasa yang aneh.
Jauh amat, bangkit dibilang bisa, saos dibilang saja, sekul dibilang nasi. Hihihi.
“Bangkit lewat,” jawab si Bapak. “Bangkit, nggih?” Masih ngga percaya,
jalan sekecil itu bisa masuk mobil. Si Bapak mengangguk. “Nembusne ning pundi jalane?” Si Bebeb nanya lagi, keluarnya di
mana. “Nyampe Tasik Kardi,” jawabnya,
samping Tasik Kardi.
“Ari Masjid Kenari, ning pundi?” Sekalian
nanya.
“Masjid
Kenari? Kelewat, sedurunge PAM belok,”
katanya dengan logat Jawa Serang yang khas di telinga. “Sebelum PAM, belok,” terangnya. Oh, ternyata kelewat jauh. Harusnya
dekat Pengolahan Air itu, kita berbelok.
Ini instalasi pengolahan air, jalan masuk ada di sebelah gedung ini. |
“Nuhun, nggih,” Si Bebeb berterima kasih.
Jenderal Hitam masih atret mundur,
sampai menemukan tempat yang leluasa untuk berbalik arah. “Oh, kayaknya jalan yang
tadi itu tembus di samping Tasik Kardi deh, Yah. Jalan kecil yang Ayah tanyain
tadi itu loh,” kata saya, teringat jalan kecil di samping Tasik Kardi.
Masjid Kenari, Here We Come!
Rupanya
sebelum Pengolahan Air, ada belokan ke arah kanan, sebelah jembatan. Dari
belokan jalanan mulus beraspal. Kanan kiri pepohonan hijau, sangat asri.
Kemudian kami memasuki perkampungan. Tidak ada tanda, kami hanya mengikuti atap
masjid yang terlihat dari kejauhan. Bentuknya mirip limas bersusun tiga tingkat dengan
mahkota di puncak atas yang berwarna keperakan.
Suka dengan arsitekturnya. Gerbang berbentuk gundukan mirip gelung atau gegunung. Cakep yak? |
Atap masjid bersusun tiga dan dihiasi hiasan mirip mahkota |
Si
Bebeb tidak mau turun dari mobil. “Ku, biasanya sholat dhuha, sholat dulu gih
di masjid,” saya menyuruhnya. Dia terlihat ragu-ragu, “nanti aja deh.” Langsung
saya samber, “takut yaaak.” Dan, sepertinya dia tidak terima dibilang takut,
akhirnya dia pun turun memasuki area masjid. Sebenarnya sih modus, terus terang
saya agak merasa keueung, kalau kata
orang Sunda.
Entah
kenapa, aura masjid-masjid lama selalu penuh kharismatik, dan agak-agak
menakutkan gitu. Hahaha, mungkin itu perasaan saya saja.
Hal
pertama yang menarik perhatian saya adalah hiasan pingiran atapnya. Mirip dengan apa
yang pernah saya lihat di Keraton Pakungwati atau Keraton Kasepuhan Cirebon.
Tidaklah mengherankan, karena leluhur para Sultan Banten berasal dari daerah
Cirebon. Gerbang mesjid berbentuk gelung atau mungkin mirip gegunungan yak? Gerbang menghadap ke arah Utara.
Hiasan pinggiran atap mirip dengan yang ditemui di Keraton Kasepuhan |
Pagi itu, suasana sangat sepi di sekitar masjid. Saya pun sibuk berfoto-foto layaknya fotografer profesional (padahal lebih rendah dari amateur kayaknya, xixixi). Sempat ada warga yang melongok dari kejauhan, mungkin dia heran, ngapain tumben-tumbennya ada yang berkunjung. Oya, katanya sih para pejabat-pejabat Banten sering berziarah ke sini, terutama menjelang pemilihan. Entahlah, mungkin mau minta doa restu apa yak?
Bagian dalam Masjid Kenari disokong oleh 4 tiang utama yang terbuat dari kayu, dengan alas berbentuk labu. Sepertinya bentuk ini ada maksudnya, karena hampir di tiap masjid di Banten Lama, model dudukan tiang berbentuk labu, di Masjid Agung Banten Lama juga begitu.
Bagian dalam Masjid Kenari. Tampak 4 tiang penyokong dengan landasan buah labu. Mihrab pun masih ada. Dan dia pun minta ditungguin :) |
Sepertinya masjid telah mengalami perluasan. Bagian aslinya mungkin sampai batas jendela hijau. |
Masjid
Kenari terletak menyatu dengan pemukiman penduduk. Berhadapan dengan masjid,
terdapat gapura bentar yang tersusun dari batu bata merah. Itulah letak makam
Sultan Banten ke-4 beserta ibunda dan anak kesayangannya (Sultan Banten ke-5).
Sekeliling gapura bentar yang merupakan pintu masuk menuju kompleks pemakaman
tertutup pagar GRC perak. Dari kejauhan tampak kain-kain putih menyelimuti
nisan yang terletak dalam bangunan mirip pendopo. Hmmm, mungkin itu adalah
makamnya sultan.
Kisah Hidup Dua Sultan Banten
Sedikit
cerita mengenai Sultan Abul Mufakir Mahmud Abdul Kadir (Sultan Banten ke-4),
beserta putranya Sultan Abul Ma’ali Ahmad (Sultan Banten ke-5). Jadi Sultan
Abdul Mufakhir merupakan anak dari Sultan Maulana Muhammad. Penguasa Jawa yang
pertama kali mendapat gelar sultan ini ditinggal oleh ayahnya saat berusia 5
bulan. Ya, Maulana Muhammad wafat saat melakukan penyerbuan ke Palembang karena
hasutan Pangeran Mas yang ingin menguasai Palembang. Mualana Muhammad ini
terkenal juga dengan sebutan Pangeran Seda Ing Palembang.
Setelah
ditinggalkan ayahnya, Pangeran Muda belum bisa memegang tampuk kepemimpinan,
sehingga urusan pemerintahan diwakilkan kepada Mangkubumi Jayanegara. Mirip
dengan drama-drama kerajaan, tampuk kekuasaan memang selalu menjadi kursi panas
yang diperebutkan semua orang. Sebelum Pangeran Muda naik tahta, terjadi
beberapa kudeta yang berhasil dipatahkan dengan kearifan Mangkubumi. Sayangnya,
Mangkubumi pun mangkat 6 tahun kemudian, dan digantikan oleh adiknya (1602).
Tetapi ini pun tidak lama dipecat, perwalian pun berpindah kepada ibunda Sultan
Muda, Nyi Gede Wanagiri.
Nyi
Gede Wanagiri kemudian menikah lagi, dan suaminya diangkat menjadi Mangkubumi.
Sayangnya, Mangkubumi yang satu ini sering menerima suap dari pedagang-pedagang
asing, dan peraturan yang dibuatnya pun lebih menguntungkan pribadi daripada
rakyat. Sehingga akhirnya menimbulkan pergolakan sesama saudara, berujung
dengan meletusnya Perang Saudara Pailir (1608 – 1609). Ada juga sumber yang
menyebutkan bahwa ayah tiri Sultan Muda ini sangat sayang pada anak tirinya,
sehingga menimbulkan iri hati, entahlah mana yang benar. Perang saudara ini
berhasil dihentikan dengan tampilnya tokoh yang dituakan, Arya Ranamanggala. Ranamanggala,
putra Maulana Yusuf dari istri yang lain, diangkat sebagai Mangkubumi baru.
Mangkubumi
Ranamanggala kemudian menindak tegas para bangsawan dan pangeran yang tidak
mentaati peraturan, serta menghapuskan peraturan monopoli yang dibuat
Mangkubumi sebelumnya (yang ditunjuk setelah Mangkubumi Jayanegara wafat).
Tahun
1624, pada usianya yang sekitar 28 tahun, Abul Mufakir memegang kendali tahta
Banten secara penuh. Beliau mendapat gelar sultan dari Mekkah di tahun 1636,
sehingga merupakan penguasa pertama yang mendapatkan gelar Sultan dari Mekkah.
Pun demikian dengan anak beliau, Pangeran Pekik (Putra Mahkota). Tak lama setelah
Pangeran Pekik kembali dari Mekkah, neneknya (Nyi Gede Wanagiri) wafat, dan
Sultan Abul Mufakir menghendaki ibundanya dimakamkan di Desa Kenari.
Diceritakan Desa Kenari ini memang merupakan tempat yang paling disukai Nyi
Gede Wanagiri untuk tetirah, menyepikan diri. Dan konon kabarnya, selain
mendirikan Masjid Kenari, Sultan juga membangun taman yang dihuni rusa-rusa.
Namun, saat saya ke sana, saya tidak menemukan bekas taman yang dimaksud.
Sebelah kanan kiri sudah penuh dengan pemukiman penduduk.
Sultan
Abul Mufakir Mahmud Abdul Kadir, terkenal sebagai sultan yang bijaksana dan
memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Dikatakan beliau suka diam-diam blusukan
melihat kondisi masyarakat pada malam hari. Jika ditemui ada rakyatnya yang
kelaparan atau sakit, keesokan harinya Sultan akan memerintahkan untuk
memberikan bantuan. Duh, kok jadi inget zaman khalifah Umar bin Khatab yak.
Di
tangan Abul Mufakir juga, hubungan diplomatik dengan pihak luar terjalin.
Sultan Abul Mufakir dan Sultan Abul Ma’ali, bersama-sama membangun Banten. Konon
menurut cerita, sultan sepuh lebih mengendalikan urusan eksternal (diplomatik)
sedangkan urusan internal dipegang oleh sultan muda.
Di
masa kepemerintahannya, terdapat pula hambatan, seperti penyerangan Cirebon ke
Banten, di tahun 1650-an, selain tentu saja sengketa dengan VOC yang merasa dirugikan dengan penghapusan monopoli. Pasukan Cirebon berhasil dipukul
mundur. Peristiwa perang saudara (Cirebon dan Banten punya hubungan kekerabatan
dari Sunan Gunung Jati), dan kemenangan Banten ini terkenal dengan sebutan
Pagarage. Untuk merayakan kemenangan ini Sultan mengadakan upacara Sasapton.
Tak
lama setelah itu, pada tahun yang sama, Sultan Abul Ma’ali wafat, setelah menderita
sakit yang cukup lama. Pewaris kerajaan pun turun kepada putra beliau yang
bergelar Pangeran Dipati Anom, yang kelak terkenal dengan sebutan Sultan Ageng
Tirtayasa, seorang sultan yang terkenal dengan strategi perang yang gemilang.
Gerbang bentar dari batu bata merah, pintu masuk menuju komplek situs pemakaman sultan |
Hmmm,
jadi sebetulnya Sultan Abul Ma’ali ini belum memegang tampuk pemerintahan
secara penuh yak, karena saat beliau meninggal, ayah beliau yaitu Sultan Abu
Mufakir masih memegang kendali penuh sebagai penguasa Banten. Sultan Abu
Mufakir sendiri wafat tak lama setelah kematian putra kesayangan beliau,
tepatnya pada tahun 1651. Dengan begitu, Pangeran Dipati Anom pun naik tahta.
Nah
begitulah kisah dibalik petualangan ke Masjid Kenari untuk mengenal sejarah
Banten, mengenal dua orang sultan yang pernah berkontribusi besar pada kejayaan
Kerajaan Banten.
Bagi
yang berminat mengunjungi masjid ini, bisa datang ke daerah Kenari. Dari Jalan
Raya kelihatan kok gerbang masuknya, ada ada tulisan Situs Makam Kenari, Sultan
Abul Mufachir Mahmud Abdul Kadir (Sultan Banten ke IV), Sultan Abulma’ali
Achmad (Sultan Banten ke V). Setelah masuk melalui gerbang tersebut, tidak
berapa lama (kurang lebih 1 km), setelah jembatan sebelum PDAM ada belokan ke
kanan. Tinggal ikuti jalan tersebut, nanti sampai di Masjid Kenari. Selamat mencari jejak Masjid Kenari, sisi kejayaan kesultanan Banten!
Situs Makan Sultan Kenari (Sultan Abul Mufakir Mahmud Abdul Kadir, Ibunda, Putra Mahkota Sultan Abul Ma'ali Ahmad, beserta kerabat), seekor kucing menjaga gerbang. |
Sampai
jumpa di perjalanan berikutnya ya. Mata
ne!
terjaga banget kebersihan masjidnya ya mbak, btw ngedit fotonya pakai apa mbak, bagus
BalasHapusSaat saya datang ke sana sih memang bersih masjidnya. Ada juga yang mengunggu di situ, hanya sedang tidur. Jadi ngga enak mengganggunya.
HapusEdit foto saya pakai photoscape Mbak, yang gampang. Hehehe.
Cirebon.....cirebon kangen mudik
BalasHapusKesultanan Banten Lama memang mengingatkan ke Cirebon. Pas saya pulang kmrn ke daerah Cirebon, ternyata bentuk atap bangunan pun sama, limas susun tiga.
HapusWaw tempatnya juga pada bagus bagus ya mbak, jadi kangen kampung halaman nih.
BalasHapusSuasananya yang masih sejuk dan penuh hamparan sawah hijau bikin nyaman Kang Nurul Iman. Btw kampung halamannya di mana Kang? Banten juga kah?
HapusSuamiku yang suka banget sama hal hal yang berhubungan dengan sejarah begini mba.. Btw banten nya dimana nya? Kakak ku di serang, deket daerah kramatwatu itu hehehe
BalasHapusMengunjungi tempat dan mengetahui sejarahnya ternyata asyik Mbak... hehe. Saya di Perbatasan Serang Cilegon Mbak. Masih daerah Kramatwatu tapi beda desa. Dekat Pondok Cilegon Indah Mbak. Deket alun2 kramatwatu kah kakaknya Mbak Asti?
Hapusitu foto sawahnya menyegarkan mata banget Mba levina :)
BalasHapusMenyegarkan mbanget Mbak Ira. Saya paling suka kalau ke Serang menyusuri jalan kecil Banten Lama yang arah Tasik Kardi (danau buatan tempat wisata keluarga sultan Banten zaman dulu). Di situ area pesawahan irigasi.
Hapusmbaaaa, artikel ini keren banget... Saya tuh seneng banget jalan-jalan ke tempat2 yang indah dan punya banyak cerita, terutama yang bisa membuat kita menjadi lebih religius. Jadi tempat2 seperti mesjid yang bersejarah itu kesukaan saya banget. Dulu masih bisa jalan2 seperti ini karena kebetulan ikut sama tim yg lagi suting, sekarang udah agak susah ninggalin anak2 :)
BalasHapusMakasih Mbak Zata. Area Banten Lama lumayan sering juga jadi tempat syuting. Bahkan syuting uka uka pun pernah katanya di area Benteng Speelwijk. Ada juga sesi pemotretan, trus pre-wedding di Istana Kaibon. Cakep foto2 udah jadinya. Nuansa masa lalu berpadu modern.
HapusIya Mbak... anak-anak memang prioritas utama yak. Btw, Mbak Zata keren, jalan-jalannya sambil syuting.
buun, so sweet yaa pnggilannya KU.. :D
BalasHapusjalan-jalan ke tmpt wisata klo gak dpt edukasi sejarahnya emng berasa kurang ya bun.. apalagi klo gak segera dituliskan..hehe
Haha.. iya kadang masih suka kesebut. Xixixi. Dulu pas awal awal saudara2 nya pada bingung. Apa sih kok panggilannya KU, KUH, xixixi.
HapusSaya suka sejarah soalnya. Jadi kurang afdol rasanya kalau ke tempat yg bersejarah gini ga dituliskan cerita sejarahnya... xixixi. Suka penasaran sih sebenernya...
Wah terima kasih banyak infonya mba Levina, kebetulan saya mau melakukan penelitian tentang wisata sejarah di Banten. Salam kenal mba, mudah-mudahan bisa bertemu :)
BalasHapus